Langsung ke konten utama

Postingan

Singgah yang sungguh

Belasan tahun hidup bersama abdi Negara memberi sedikit nilai unggul dalam bernasionalis dibanding sejawat lainnya. Belasan tahun hidup bersama tunawisma kontrak memberi sedikit pemahaman perihal tempat istirahat untuk kembali bekerja. Belasan tahun hidup bersama abdi Negara memberi gambaran tentang bosan yang nyata. Umur tujuh belas menjadi awal untuk menguji bekal selama dua belas tahun suntuk bertahan dari kurikulum ktsp dan k13 di atmosfer baru yang jauh dari pelukan ibuk bapak. Ibu tawarkan kontrakan nyaman, asrama yg kupilih. Pikirku untuk memarahi diri yang gundah sebab banyak harapan tlah mati. Nyatanya makin menyebalkan tp gpp, kapan lagi berkelabut dengan anak hip hop penjunjung kerapian fasilitas pemerintah. Barusan motivasi andalanku. Hhhh Rumah bagiku tempat singgah yang paling sungguh. Selama aku menghirup O2 tak pernah ku rasa miliki kamar pribadi dengan dekorasi skaha, apalagi rumah dengan ubin pilihan sendiri. Memangnya benar tidak punya griya pribadi? Punya sih, beber…
Postingan terbaru

Tentang Feminis dan Pelakonnya

Dibuka dengan tuduhan-tuduhan satire yang menyudutkan dirinya sebagai penganut feminis. Telinganya hampir menangis teriris bawang, bagaimana bisa label itu lahir dari bibir merah rekah mereka? “Eh, feminis ya?” gelak tawa mereka. Ia menanggapi semua peluru tuduhan itu dengan rasa tersinggung. What the hell man, apa yang ia lakukan sampai orang membranding dirinya dengan cap Feminis Lover. Apa karena cuitan atas artikel Magdalene yang sering ia baca di laman twitternya? Atau apa? Toh ia juga berlaga tomboy. Sadarnya hadir dengan istimewa usai muak dengan tuduhan itu, ia ingin hal itu segera lesap. Mulailah ia membaca, mengulik kisah jalannya feminis. Semakin dalam, fikirannya terbuka “Feminis is not always that bad man” pungkasnya. Feminis dalam pemahaman lugunya adalah membela kesetaraan antar cewe dan cowo, bukan perihal kesamaan. Jelas tanpa ironi cewe dan cowo berbeda, mulai dari papilla tubuh hingga desiran tanggung jawab. Atom utamanya ialah kesetaraan bukan kesamaan, woman must h…

Melarikan Diri

Adalah hal yang menyebalkan ketika harus berhadapan dengan ibu di rumah setiap hari dan setiap saat yang kerjaannya marah mulu. Lulus SMA malah bukan membuat diriku menjadi senang, malah membuatku khawatir. Aku takut tidak bisa hidup sendiri kedepannya. Ibuku selalu cerita, setelah ia lulus SMA ia langsung berkelana mencari pekerjaan di kota. Ya, ibuku orang desa daerah jombang tepatnya dan dia pergi merantau (istilahnya lah) ke Surabaya. “Umur ibu waktu itu 18 tahun, sudah mandiri”. Aku jadi ngeri sendiri ketika mengingat-ingat ibu cerita seperti itu. Kenapa? Karena seperti ngusir aku dari rumah ngga? Walaupun sebenarnya engga, tapi aku ngerasa begitu. Sejak saat itu aku mulai engga nyaman kalau lama-lama di rumah. Belum lagi disemprot repetan dari ibu setiap harinya, beliau seringmarah kepada adikku tapi ya namanya juga ibu-ibu satu kena semua juga harus kena (biar adil).
Sebelum UN aku baru berpikir mau lanjut kemana, aku tidak mau nantinya harus menghidupi diri dari hasil gaji pela…